Kewirausahaan Desa, Harus Berbasis Masyarakat Pertanian

IMG-20151013-WA0028

Kiriman dari : Yadi Fathurohman

(Aktivis LSM Penggiat Pertanian di Berau  Kalimantan Timur dan Jawa Barat)

Kali ini blog klikdesa mendapat kiriman artikel dari seorang penggiat masyarakat asal Bandung Barat Jawa Barat yang sedang mengabdikan diri di perdesaan Berau Kalimantan Timur.  Tidak mudah memang memilih pekerjaan untuk masuk ke pelosok negeri tanpa fasilitas dan biaya sepandan dibanding tantangannya.  Beliau berbekal komitmen untuk  membangunkan kesadaran masyarakat terhadap pertanian ramah lingkungan dan peningkatan semangat berusaha.  Berikut tulisannya:

Wirausaha atau entrepreneur adalah tipe kepribadian yang memiliki keinginanan untuk mengelola usaha sendiri dan bertanggung jawab penuh pada hasil akhir.

Berdasarkan pendapat tersebut, berwira usaha berarti tanggung jawab, dimana orientasinya adalah pada hasil akhir.

Di negara agraris yang mayoritas warganya adalah petani. Ia memiliki peranan penting dan harus mendapatkan perhatian lebih dalam menunjang kemakmuran negara. Perhatian ini tidak hanya sebatas pada ranah produksi saja, tetapi pola distribusinya perlu diatur dan diurus, agar keadilan dapat dirasakan oleh petani itu sendiri. Bila perlu petani dilibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam ranah distribusi atau pemasaranya. Hal ini perlu dilakukan mengingat masih adanya harga hasil pertanian yang tidak berpihak pada petani.

Bantuan-bantuan pertanian dalam bentuk benih, pupuk, alat pertanian dan sebagainya sudah sering diberikan kepada petani. Namun apalah gunanya jika distribusi hasil dari pertaniannya tidak mendapat perhatian yang mungkin terabaikan begitu saja.

Marketing punya peranan penting dalam hal pendistribusian dan harga jual. Kulitas hasil panen dan komoditas yang rendah bisa ditingkatkan dengan modal tambahan yang kecil. Pendistribusi yang mahal di ongkos kirim bisa disiasati dengan meningkatkan kualitas atau mengganti komoditas yang tepat. Ini masalah tekhnis dan regulasi yang bisa diatasi dengan pengorganisiran juga berdasarkan informasi kebutuhan pasar.

Indeks kemajuan suatu negara atau wilayah bisa dilihat dari seberapa persen jumlah pengusahanya. Suatu negara atau wilayah dikatakan maju, apabila minimalnya 2% jumlah penduduknya adalah pengusaha. Singapura adalah salah satu contoh negara maju, dimana jumlah pengusahanya di atas rata-rata,  dikisaran 4%.

Kewira usahaan guna menambah jumlah pengusaha harus menjadi prioritas untuk meningkatkan perekonomian di masyarakat.

Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat maka wirausahawan-wirausahawan baru harus dibentuk di tataran masyarakat tingkat bawah. Wirausahawan-wirausahawan ini tentu harus berdasarkan komoditas pertanian di masyarakat agar barang hasil pertanian dapat tersalurkan atau terdistribusikan pada celah-celah pasar yang ada.

Jika agrobisnis ini menjadi andalan bagi suatu wilayah, maka hasil pertanian akan mudah terserap, kemudian dengan sendirinya petani akan punya motifasi untuk bercocok tanam sesuai dengan komoditas yang dikehendaki oleh pasar. Jika komoditas yang ditanam petani punya harga jual yang tinggi, maka dengan sendirinya pula petani akan mempertahankan lahan pertaniannya. Dengan meningkatnya wibawa tanah sebagai lahan bercocok tanam yang menyokong perekonomian bagi petani, maka dengan sendirinya petani akan mempertahankan lahanya agar tida beralih fungsi bagi lahan selain pertanian. Apalagi di daerah yang berpotensi untuk menjadi lahan industri atau pertambangan yang berpeluang pada pencemaran lingkungan.

Di tingkat desa ada lembaga yang berperan dalam membentuk dan mengelola usaha di tataran desa, lembaga tersebut dikenal dengan nama Badan Usaha Milik Desa (BUMD). Lembaga inilah yang seharusnya menjadi andalan dan prioritas utama pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian di tingkat desa. Bumdes jika dikelola diarahkan dan dipantau dengan baik dan profesional maka peluang untuk menggapai kemakmuran di tingkat kampung bisa dicapai.

agro industri

agro industri

Farm management sangat peru dibentuk untuk mendukung sektor agribisnis yang dikelola oleh Bumdes. Farm management adalah lembaga profesional yang berperan mengelola hasil dari prodak yang dihasilkan oleh Bumdes, bukan hanya satu bumdes tentunya, tapi terdiri dari beberapa bumdes yang mengelola komoditas yang sama. Farm management berperan menampung, mengola dan kemudian menyalurkannya kepada industri-industri besar.

Selain farm management, integrated farming juga sangat penting. Integrated farming adalah sistim integritas antara hasil pertanian dengan memanfaatkan sisa limbah yang mendukung terhadap hasil pertanian. Misalnya selain mengolah dan menjual pipilan jagung, sampahnya seperti bonggolnya bisa digunakan untuk pakan ternak. Kemudian kotoran ternaknya digunakan untuk pupuk selain itu ternaknya juga bisa dijadikan peluang bisnis potensial. Dengan sistim integritas tersebut maka sektor bisnis tidak hanya terpaku pada satu hasil komoditas saja. Ini semua tentunya tercantum dalam perencanaan farm management.

Kita semua tahu bahwa tanah nusantara ini adalah tanah subur makmur lohjinawi. Tapi kesuburan tanah kita ini belum sepenuhnya bisa dinikmati oleh petani terutama petani-petani yang berada di pelosok negri ini. Kesuburan tidak menjadikan alasan untuk kemakmuran jika tidak mampu mengelolanya dengan baik. Alih-alih menjadi kesejahteraan justru menjadi bencana. Maka berdasarkan hal tersebut kata kuncinya adalah pada farm management atau pengelolaan pertanian.

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *