Mengenang Keseruan Berkunjung ke Pulau Bawean yang Unik (Bagian 1)

tidur di atas kapal laut pagi hari

Oleh Aa Subandoyo / klikdesa.com

Waktu sudah pukul 21.15 ketika kami dapati informasi bahwa perjalanan laut pertama kali ke Pulau Bawean Kabupaten Gresik harus tertunda. Gelombang di laut jawa cukup tinggi sehingga kapal Giliyang (cukup besar bisa membawa beberapa kendaraan roda 4) diputuskan tidak diijinkan untuk berlayar dari Pelabuhan Gresik ke Pulau Bawean (sekitar 7 jam perjalanan ke arah utara Pelabuhan Gresik). Sebenarnya saya kecewa berat sudah menunggu sejak sore dan gagal berangkat setelah menunggu ber jam-jam untuk menyaksikan pulau eksotis yang juga mistis itu.   Waktu itu kami berangkat di Bulan Agustus 2015  bertepatan dengan gelombang tinggi. Resiko berkunjung ke pulau kecil memang keterbatasan  transportasi yang tidak setiap saat tersedia apalagi pada saat gelombang tinggi.

Tiga hari berikutnya, baru ada kapal yang akan singgah ke Pulau Bawean. Katanya kapal besar  bernama kapal louser yang tahan gelombang tinggi.  Rute kapal Louser dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Kalimantan. Kapal itu biasnya tidak singgah di Pulau Bawean, dan hanya singgah untuk mengantisipasi tumpukan penumpang yang tidak bisa berangkat berhari hari. Kapal Louser memang sangat besar, jauh lebih besar dibanding kapal ferry yang pernah saya naiki dari di selat sunda, kapal ferry dari Gilimanuk- Ketapang, dan apalagi kalau dibandingkan kapal ferry dari Pelabuhan Padang Bay Bali ke Pelabuhan Lembar Lombok.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 22.00 ketika kami berhasil masuk berdesakan ke dalam kapal, semua lantai kapal sangat penuh dengan manusia dan barang penuh sehingga dengan terpaksa kita duduk di lantai paling atas di dek 5, tanpa atap.  Jarang ada kesempatan seperti ini, menumpang kapal dengan leluasa memandang bulan dan binrang di langit yang tidak begitu cerah.  Agak degdegan naik di atas kapal besar malam-malam, katanya semakin ke atas goncangan akan semakin tinggi, selain itu bisa tiba-tiba saja turun hujan tentu sudah terbayang berjam-jam kehujanan di atas kapal.

Ombak memang besar, sepanjang perjalanan badan kapal terasa bergoyang kadang terasa cukup keras dihantam ombak. Bagi orang gunung seperti saya tentu sedikit menegangkan. Tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain memandang langit, tidak tampak ujung lidah gelombang karena tidak sedang purnama, sesekali melihat bayangan jelaga dari pembuangan asap.  Deru mesin kapal yang cukup keras menemani perjalanan.  Sebenarnya jika tidak ada suara mesin, di atas dek akan sangat senyap:  tidak ada canda tawa, tak ada keluh kesah, mereka semua seperti sudah sangat pasrah, para penumpang hanya pada rebahan di atas kain karung beras yang disewa Rp 10.000, sesekali sebagian duduk sambil merokok.

di atas kapal louser

di atas kapal louser

Sambil melihat langit saya kemudian merenung, “oh inilah rasanya sarana transportasi laut  dari bangsa beasar, bangsa lautan yang kesejahteraannya masih belum maju,   inilah realitas moda transportasi warga yang sudah lama merdeka dan katanya lautannya sungguh kaya, orang-orang berserakan di atas dak, beralas  karung bekas beras, tanpa alat pelindung keselamatan sama sekali jika terjadi sesuatu di lautan”.  Saya agak sedikit terhibur karena ada Kabag Pemerintahan Kabupaten Gresik pak Yusuf yang bersama kami juga tidur di tempat yang sama dengan kepasrahan, tanpa mengeluh, juga tanpa banyak berkata-kata.

Setelah sekitar 6 jam di atas lautan, tibalah subuh kita sembahyang di atas dek. Tentu saya memilih tayamum karena toilet sempit dan penuh dengan antrian, itupun kita harus susah payah turun ke dek di bawahnya.  Mencoba mencari kekhusuan di atas lautan subuh hari, sebentar lagi sampai, nampak wajah-wajah sangat lelah itu tegar untuk menyambut pagi, sebagian sudah sumringah karena akan segera sampai di bawean sebagian lagi masih harus terus melanjutkan ke Pulau Kalimantan!

 (bersambung)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *