Modus-Modus Korupsi di Indonesia (1)

Korupsi itu bagi-bagi

Oleh Aa Subandoyo / klikdesa.com

 

Dana apapun yang berasal dari pemerintah rawan dikorupsi, seperti kata pepatah setiap ada kemauan pasti ada jalan.  Seketat apapun aturan yang dibuat oleh sistem, karena kemauan korupsinya sangat kuat selalu ada jalan, cara untuk korupsi. Bahkan dana untuk kondisi darurat dan tujuan-tujuan mulia saja dikorupsi. Bukankah kita pernah dengan korupsi dana bencana, korupsi dana kesehatan, korupsi beras untuk rakyat miskin, korupsi cetak Alquran, korupsi dana tsunami, korupsi e KTP?.  Kasus korupsi paling baru terjadi  di Direktorat Jenderal Hubungan laut Kementerian perhubungan, angkanya cukup besar sampai berkisar di 20 M, ada hal yang membuat kita “terkaget” ketika didesak oleh penyidik KPK katanya uang korupsi untuk hal baik yaitu  “untuk anak yatim dan membangun gereja”.

Ada beberapa modus korupsi, setidaknya yang dapat kita amati dan kita pelajari dari berbagai kasus yang muncul ke media massa, ataupun dari perbincangan proyek di warung kopi. Saya bukan pakar korupsi tapi setidaknya indikasinya adalah benar:

  1. Modus proyek besar

Biasanya dilakukan oleh pengusaha besar yang menjadi investor pada sebuah kontestasi kepala daerah.  Dana puluhan milyar  yang sudah digelontorkan harus diganti, cara ganti yang paling mudah adalah dengan “menggaga” sebuah proyek besar.  Contoh proyek bisa stadion, jalan layang, kawasan perumahan elite, atau bahkan reklamasi pantai.  Semua proyek besar biasanya tidak semata-mata tumbuh dari RTRW tetapi dari sebuah upaya balas budi. Korupsi ini jarang ketangkap karena dalam pelelangan proyek para pengusaha kecil jaring bisa ikutan kekurangan modal, sehingga indikasi pengkondisiannya tidak akan terasa dan tidak menimbulkan persaingan dan kegaduhan (jarang ketangkap)

  1. Modus Ijon

Pengusaha “membeli proyek” kepada otoritas dalam pemerintahan yang mempunyai kewenangan untuk mengalokasikan proyek yang disetui dalam anggaran, tentu ini kerjasama banyak orang.  Banyak pengusaha memilih modus ijon karena sudah menjadi aturan main tidak tertulis, sementara pihak “pedagang” juga memerlukan pembeli yang pasti, bayar (setoran sekian persen)  sebelum proyek dikerjakan  agar ada kepastian pendapatan.  Bisa kita lihat secara jelas di kasus e KTP dimana pengusaha setor duluan.

Korupsi itu biar cepat kaya

Korupsi itu biar cepat kaya

  1. Modus Laporan Fiktif/manipulasi kegiatan

Sebenarnya agak susah untuk membuat laporan seluruhnya fiktif tapi paling tidak sebagian dibuaf fiktif terutama untuk kegiatan seperti pelatihan, yang seharusnya 4 hari menjadi 2 hari. Namun demikian untuk kepentingan pemeriksaan laporan tetap dibuat 4 hari lengkap dengan photo, tanda tangan daftar hadir, dll.  Contoh lain rombongan kunjungan kerja  harusnya 10 orang, yang datang 5 orang tapi dalam laporan tetap dibuat seolah-oleh yang hadir 10 orang.  Korupsi ini bisa juga berangka milyaran rupiah kalau skala acaranya nasional. Keteledoran laporan biiasanya suka diminta pengembalian ke BPKP kalau pengerjaan laporannya terlalu kelihatan fiktif.

  1. Modus Regulasi/perijinan

Pengurusan ijin perumahan besar, ijin industri, ijin tambang, ijin pendirian pabrik, pendirian kawasan peternakan, atau alih fungsi lahan sering menjadi modus yang dapat mendorong korupsi.  Orang bilang setiap huruf dalam surat ijin itu ada harganya.  Modus ini yang menjerat kasus Bupati Bogor. Seorang kawan pernah menjadi ajudan salah satu Bupati di Jawa Barat, bercerita bahwa “pada perijinan besar, sekelas ajudan saja dulu dapat 50 juta rupiah”.

Kisah miris lagi, dari seorang kawan ahli tata ruang yang sekarang sudah menempuh pendidikan S3, waktu itu pernah melakukan riset yang mendapatkan data bahwa  salah satu walikota di Jawa Barat menandatangi 50 ijin Mall dalam satu hari  menjelang lengser, tanpa mempertimbankan kelayanan dan kompetsisi sehat. Ibaratnya mau jalan mau tidak, mau baik atau tidak “merem”. Betapa perijinan pada tahap tertentu menjadi tambang untuk mendapatkan uang secara cepat.

 

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *